Manusia biasa memandang sesuatu dengan jang lain. Lang-it berpisah dengan bumi, bintang i*rpisah dengan Matahari†air, lain dari tanah. Bahkan eugkau Lain, arupun lain, tetapi pandangan georang Shafi semuanja adalah satu. Pada tennnan kaina pada Kumpulan benang, dian- tara turak dan suri, pada ragi dan tjorak, dia melihat pabrik dan dia melihat pentjipta pabrik. Pada buah dan pada daun, dia melmat pohon. pada setetes air, dia mehhat laut.
Dia melihat suatu dalam jang Satu, dan melihat jang satu da- lam Babkan melihat sesuatu dalam segala sesuatu. Sekali pandang dia sampai kepada rahasia ktdjadian. Sehingga achirnja dui gegala jang aaa dan jang tam-pak, dia menda t Batu kegan, jaitu semuanjn itu hanjalah rurnus ini adoth tanda dari adanjw satu Haki7cat. Bahkan kadang-kadang dia mendaki lebih tinggi, seakan-akan lepas dia dari pandangan hidup orang biasa, .
ebab dia berani menjatakan ke •akinannja bahwaganja segala jang ada ini tidak- lah ada, jang أ¥3da hanjalah jang tetap ada. SegaJa Besuatu jang adanja bergantung repada kehendak jang tetap ada, maka sesuatأ¼ jang bergantung itu tida.kTWL adz, dia hanjalah pe•rtauiaayt sadja daripada “‘ng sebaأ¸rnja ada. Dia hanja rumus sadja. Bila mereka telah sampai pada pengembaraan begini, dilang- kahinjalah ilmu, Enhkan dilangkahinjalah filsafat. I_bnu jang lahir adalah ilmu orang jang Mubtadi’.
Filsafat adalah keasjikan orang jang sedang Hakikat hidup kata mereka, ialah Tasatotauf,• lأ©.pas mhani ini daripada kungkungan badan kasar dengan segala perangai dan hawa nafsunja. melajang kedaer-ah Jain dari pada daerah jang biasa. Dibawa Oleh rasa asjik, rindu dan tiinta. Sebab kcmana sadja dia melihat, ketjintaan dan asjik itu djugalah jang nampak. Tingkat pertama mereka beri nama mgkat kedua merwkR namai â€AV1s17cS’. Djika tuan biasa membatja riwajat.
iwajat tentang pertjin- taan dan filgafat tentang tjinta, maka tafsir jang dialamj dan dirasai Oleh seorang Shufi tidaklah dapat digambarkan Lagi- Tidaklah tjukup kata-kata, tidaklah tjukup kalimat buat mem- beri.nja tafsir. Sebagai Dialal Addin At-Rumi peluh mengata- kan : â€Apalah artinja kalimat, apalah artinja susunan daripada huruf-huru$. Kalimat dan huruf tidaklah tiukup buat menggam- barkan itu”. 29